Page 2 of 2
dahulu adalah jahanam yang liar, mengular, mendiamsegenap adalah kitayang berenang di jahil luas terbentang mati adalah pisahyang datang waktu kita bersamatidak memberi salam, tidak duluan tanyacuma sekelip matakadang kelip pun tiada.
di saatnya, aku mencium bau cahaya sepi tidak lagi ku telan sebagai ruji aku terang dan berbunyi di saatnya, aku menghirup titis air hujan tidak lagi ku pandang sebagai basah aku dingin dan menangis dia menghangat dan menepis di saat ini, aku memandang semuanya seperti dia, seperti dulu.
pada suara yang ketandusan kata dan rasa yang ditahankan lama sepertinya ada sendu yang jatuh dalam rindu seolahnya ada lagu yang tak terdendang dalam syahdu dari tidak mengendahkan, hingga ke dalam suatu keberadaan mengagumi dan menghormati kerana ianya bukanlah satu permainan bahkan mengakui, ini adalah...
petak punya bucunyabulat ada lilitnyatapi jika dilekukkanmereka cela hati satu bucunyahati dua bulatnyacuma ditambahkan lekuk, sempurna.
ada wajahmu yang bergenang dalam air tasik aku singkap satu persatu alismu matamu hidungmu bibirmu perlahan-lahan kesemua itu berlalu dan melihatkan air tasik bergenang di mataku